Denpasar, Februari 2026 — Komitmen menjaga masa depan Bali melalui kolaborasi lintas sektor kembali ditegaskan. Sekolah Tinggi Bisnis (STB) Runata resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Persatin RANGER (Kawan Alam) dalam sebuah langkah strategis yang mengintegrasikan pendidikan tinggi dengan gerakan konservasi lingkungan dan satwa endemik Bali.

Penandatanganan dilakukan oleh Ketua STB Runata, Dr. Lusia Vreyda Adveni, S.T., M.M., bersama Henny Paula Sitohang, S.S., Chief Ranger Officer Persatin, di Denpasar. Penandatanganan MoU ini juga disaksikan oleh Chief Patron Persatin, Wanda Syahputra. Kerja sama ini dirancang sebagai bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang tidak hanya berfokus pada pendidikan dan penelitian, tetapi juga pada pengabdian nyata kepada masyarakat melalui aksi keberlanjutan.

Kolaborasi ini lahir dari kesadaran bersama bahwa tantangan utama Bali ke depan tidak hanya pada sektor ekonomi dan pariwisata, tetapi juga pada keberlanjutan lingkungan serta perlindungan satwa endemik yang menjadi identitas ekologis Pulau Dewata. Oleh karena itu, ruang lingkup kerja sama mencakup pengembangan kurikulum berbasis sustainability, program magang dan Kampus Berdampak, riset konservasi, hingga kampanye nasional edukasi lingkungan dan satwa.

Tak hanya berhenti pada tataran akademik, kerja sama ini juga secara khusus membahas rencana konservasi lingkungan pesisir dan konservasi satwa endemik asli Bali guna mendukung ekosistem pariwisata yang bertanggung jawab. Konservasi dipandang sebagai fondasi utama dalam menjaga daya tarik Bali sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan kelas dunia.

Sebagai program unggulan, kedua pihak meluncurkan gerakan “Kawan Alam”, sebuah inisiatif kolaboratif yang mendorong partisipasi mahasiswa, komunitas, pemerintah, dan masyarakat luas dalam aksi nyata pelestarian lingkungan. Implementasi awal kerja sama ini akan dimulai bertepatan dengan Hari Peduli Sampah Nasional pada 21 Februari 2026 melalui kegiatan bertema “KAWAN ALAM, KAWAL PARIWISATA BALI 2026” yang akan digelar di Pantai Padang Galak, Denpasar Timur.

Kegiatan tersebut menargetkan partisipasi sekitar 500 peserta dan menghadirkan aksi bersih pantai inklusif, edukasi pengelolaan sampah, mini talkshow lingkungan, serta kampanye konservasi satwa endemik Bali. Gerakan ini diharapkan menjadi simbol bahwa perlindungan lingkungan dan penguatan pariwisata dapat berjalan beriringan.

Ketua STB Runata, Dr. Lusia Vreyda Adveni, menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan langkah konkret menghadirkan pendidikan yang berdampak langsung bagi masyarakat dan lingkungan.

“Perguruan tinggi tidak boleh berdiri di menara gading. Mahasiswa harus hadir sebagai agen perubahan. Melalui sinergi dengan Persatin RANGER, kami ingin membentuk generasi yang tidak hanya memahami bisnis dan pariwisata, tetapi juga memiliki kesadaran kuat terhadap konservasi lingkungan dan satwa endemik Bali. Sustainability bukan lagi pilihan, melainkan keharusan,” ujarnya.

Sementara itu, Chief Ranger Officer Persatin, Henny Paula Sitohang, menekankan bahwa masa depan Bali sangat bergantung pada keberanian semua pihak untuk menjaga ekosistemnya.

“Konservasi adalah investasi jangka panjang bagi pariwisata Bali. Jika lingkungan dan satwa endemik kita terjaga, maka identitas dan daya tarik Bali akan tetap kuat. Melalui Program Kawan Alam, kami mengajak generasi muda dan seluruh elemen masyarakat untuk menjadi bagian dari gerakan bersama menjaga alam Bali,” katanya.

Chief Patron Persatin, Wanda Syahputra, turut menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan momentum penting membangun ekosistem kolaboratif antara dunia pendidikan dan gerakan konservasi.

“Bali membutuhkan kepemimpinan kolektif. Kerja sama ini bukan sekadar penandatanganan MoU, tetapi awal dari gerakan bersama yang berkelanjutan. Ketika kampus, komunitas, dan masyarakat bersatu, maka konservasi bukan lagi wacana, melainkan gerakan nyata. Kawan Alam adalah simbol bahwa masa depan pariwisata Bali hanya bisa dijaga jika alamnya kita rawat bersama,” ungkapnya.

Kerja sama yang akan berlangsung selama lima tahun ini diharapkan mampu melahirkan model praktik baik pengelolaan lingkungan pesisir, memperkuat kesadaran publik terhadap konservasi satwa endemik, serta membangun citra Bali sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan yang inklusif dan bertanggung jawab.

Di tengah berbagai tantangan global terhadap lingkungan dan industri pariwisata, sinergi antara dunia pendidikan dan gerakan konservasi ini menjadi pesan kuat bahwa masa depan Bali dimulai dari kolaborasi hari ini.

Kita semua bisa jadi Kawan Alam 🌿

Leave a comment